Dalam dunia Radio dan TV tidak sama dengan koran kalau pendengar tidak mengerti maka pendengar tidak punya daya dan upaya untuk meminta ulang bacaan beritanya . Kecuali koran yang pembacanya bisa mengulang berkali-kali. Untuk itu penyiar radio dan TV harus punya persiapan yang ekstra agar baca berita penyiar tidak bikin pemirsa kebingungan.
Ketika penyiar on air membaca berita kemudian lidah keblibet lalu terjadilah kesalahan baca yang tidak disengaja apa yang seharusnya penyiar lakukan atas kesalahan itu? Kesalahan baca itu manusiawi . penyiar kelas dunia dimanapun pasti pernah salah baca ,keblibet .
Salah baca karena keseleo lidah, sakit batuk atau apalah namanya pasti pernah dialami penyiar . Selama ini saya amati ada bermacam-macam reaksi penyiar ada penyiar yang bilang “maaf maksud kami”, “kami ulang “, “maaf”, dan ada yang tidak bereaksi apa –apa seolah-olah tidak terjadi apa-apa istilah teman-teman penyiar “tabrak lari ” . Saya juga pernah mendengar penyiar tidak bilang apa-apa lalu dia mengulang kata yang salah tadi dan melanjutkannya sampai tuntas.
Bila salah kata
Saya pernah dengar penyiar melakukan kesalahan baca berkali-kali sebanyak itu pula dia mengucapkan kata “maaf”. Umpama pengucapan yang salah sampai 3 kali dan mengucapkan maaf sampai tiga kali ini justru akan mengganggu isi berita dan akan menimbulkan pertanyaan apakah –penyiar ini tidak siap atau jangan-jangan penyiar ini suka minta maaf
Lalu apa sebaiknya penyiar lakukan ketika terjadi kesalahan ? : jawabanya ulangi saja kata yang salah tanpa mengucapkan apa-apa lagi (seperti “maaf” dan lain-lain ) lanjutkan naskah sampai tuntas.
Penyiar harus punya sistim target yaitu target hari ini nol kesalahan realisasinya bagaimana.
Bila salah kalimat
Yang dimaksud salah kalimat adalah penyiar baca kalimat tidak sesuai kaidah baca sehingga mengandung pengertian yang salah dari maksud yang sebenarnya dan bisa juga karena seharus . dalam kondisi ini bila penyiar tersebut peka maka sang penyiar meski mengulang kalimat tanpa bilang apa-apa lagi (seperti maaf dan lain—lain) bila kata maaf terucap dikhawatirkan kata maaf adalah bagian dari kalimat atau naskah)
Bila penyiar batuk
Membaca berita kemudian penyiar batuk atau tenggokan gatel sehingga reflek kita berdehem atau batuk itu adalah kesalahan yang wajar dan manusiawi. Lalu apa yang dilakukan ketika suara batuk terlontar ke udara .nah terhadap yang satu ini kata maaf bisa kita ucapkan lalu lanjutkan pada kalimat awal.
Kesalahan baca berita jangan jadi ciri khas
Walaupun kesalahan dalam baca berita adalah manusiawi dan wajar tapi janga sampai penyiar tidak hati-hati karena bila kesalahan baca itu sering terjadi maka hukuman yang akan kita dapatkan adalah pemirsa akan mengatakan : kalau sudah si A siaran pasti banyak salahnya. Apakah sebagai penyiar mau pendengar menanamkan image negative itu tentang cara baca berita kita ?. Justru kita harus balik kalau sudah si A baca berita luar biasa !
Meminimkan Kesalahan Baca
Penyiar sejak sebelum on air harus teliti apakah ada kalimat asing atau kalimat yang janggal. Periksa juga apakah ada salah ketik dari editor salah ketika dari editor yang belum diteliti akan dibaca secara bulat dan utuh oleh penyiar padahal itu salah , contoh kata "padahal" tertulis padahul dan dibaca padahul oleh penyiar bukankah itu akan membingungkan pemirsa dan kedengarannya lucu .
Jangan lupa pengucapan jumlah atau bilangan rentan pada kesalahan baca untuk itu pastikan kita mampu menyebutnya nanti saat On Air. Faktor psikis juga berpengaruh maka pastikan kita dalam kondisi mood dan mantap luar dalam ketika baca berita.
(Bram Wijaya)
Salah Baca Berita Dan Antisipasinya
Diposkan oleh BRAM WIJAYA | 20:07 | baca berita, batuk, Penyiar, salah baca | 3 komentar »Tabrakan Suara
Diposkan oleh BRAM WIJAYA | 18:29 | Penyiar Radio, Penyiar Tv, Suara, tabrakan, Wawancara | 0 komentar »Problematika sebuah wawancara TV dan Radio masih menjadi daya tarik untuk dianalisa karena semakin hari ilmu tentang wawancara semakin berkembang dan menarik untuk dipraktekan bagi penyiarnya. Pengalaman penyiar lain adalah guru terbaik.Problem kecil namun sangat mengganggu seperti tabrakan suara perlu di analisa secara khusus
Dengarkan Hatinurani Pemirsa
Disalah satu TV swasta sebuah wawancara pro kontra Perpu membuat daya tarik. karena isunya memang pas dan yang diwawancarai memang berkompeten atau ahli dibidangnya. Namun satu hal yang membuat wawancara itu menjadi pro kontra bukan pro kontra masalah perpu tapi pro kontra dikalangan teman-teman penyiar sendiri yaitu dua narasumber memperlihatkan egonya ingin mendominasi pembicaraan sehingga praktis terjadilah tabrakan suara yang panjang dan terulang-ulang .
Memintai pendapat pemirsa lebih pas daripada memintai pendapat penyiar atau programmer . Karena sedari dulu memang penyiar harus belajar menjadi pemirsa . Menyingkap hati nurani pemirsa akan membuat kita sebagai penyiar disuka dan acarapun akan disuka.
Di sebuah warung yang memasang TV dan kebetulan yang di tonton adalah wawancara Pro Kontra Perpu .Ternyata tiga orang ikut tegang dan yang lainnya menggerutu dengan mengatakan apa-apa-an ini ! nggak karu-karuan nafsuan banget . Bisa jadi gerutuan 3 orang pemirsa ini mewakili ribuan penonton lain.
Setelah kita amati wawancara Pro kontra perpu KPK itu ternyata menimbulkan ketidaknyamanan pemirsa yaitu dua orang narasumber itu saling berebut bicara saling menyela dan akhirnya yang terjadi dua suara narasumber itu menurut istilah saya “tabrakan di udara” secara berkepanjangan dan terulang-ulang .
Penyiar itu raja mainkanlah secara profesional
Sang penyiar yang seharusnya menjadi pengatur sebuah wawancara belum mampu mengatur agar wawancara itu nyaman . Praktis wawancara tersebut hanya memperlihatkan ketegangan saja bukan menemukan wawasan baru yang masuk kebenak pemirsa . Padahal kita dengar Penyiar tersebut mampu bertanya dengan bobot pertanyaan yang begitu luar biasa namun sayang menjadi kabur terganggu oleh suara narasumber yang lain yang berebut bersuara dan akhirnya tabrakan diudara dan lucunya dibiarkan oleh penyiarnya .
Fungsi penyiar yang punya kuasa penuh untuk mengatur jalannya wawancara tidak diperlihatkan entah lupa ,ataukah sengaja menjual ketegangan tanpa makna ?,atau karena ketidak tahuan saja.
Benar-benar sayang sebuah pertanyaan yang berbobot dijawab nafsu bicara narasumber kesimpulannya pemirsa hanya diberi suguhan ketegangan,gerutuan,tanpa kesimpulan dan tanpa memberi proses pembelajaran bagi yang menonton.
Ketegangan Yang Punya Nilai
Sebagai seorang penyiar menciptakan ketegangan dalam sebuah wawancara itu perlu dan wajar untuk memainkan emosi pemirsa agar wawancara punya nilai plus dan pemirsa tidak beranjak . Tapi menciptakan emosi pemirsanya juga harus punya nilai dan ada manfaatnya yaitu : Memainkan emosi dan Membuka wawasan pemirsanya
harus diatur agar suara narasumber tidak tabrakan diudara sehingga pemirsa benar-benar akan melihat siapa nara sumber yang pintar dan penjelasannya bisa membuka wawasan pemirsa .Pemirsa akan melihat siapa narasumber yang sabar dan tegas dalam bicara , juga pemirsa akan melihat siapa narasumber yang lemah dan tidak masuk akal dalam bicara .
Mungkin penyiar bisa menyela dengan mengatakan umpamanya …Maaf kita beri kesempatan pada untuk bicara. Nah kalau berkali diperingatakan ternyata masih main tabrak akhirnya terjadilah kesimpulan wawancara ini menarik karena sudah mampu mengungkap sifat-sifat asli narasumber. Dan penyiarpun sudah berusaha dan bekerja profesional. (Bram Wijaya)
18 Kesalahan Saat Wawancara
Diposkan oleh BRAM WIJAYA | 18:24 | Penyiar, Radio, tv, Wawancara | 1 komentar »Akhirnya berbahagialah penyiar-penyiar yang sudah memiliki Intuisi yang peka dan selalu konek dengan kondisi apapun . Banyak penyiar yang cerdas tapi belum tentu bisa wawancara ,karena tidak punya pengalaman dan jam terbang yang cukup untuk acara wawancara.
Wawancara akan selalu menjadi momok menakutkan bagi penyiar baru bahkan penyiar seniorpun masih bisa merasa bingung bila belum punya persiapan ,artinya bila kita belajar wawancara tidak ada istilah tamat dia akan harus terus belajar karena ilmu wawancara terus berkembang . Penyiar yang senior sekalipun bila tidak mood bisa menghasilkan sebuah wawancara yang tidak bermutu .
Tulisan ini untuk sekedar bayangan saja bahwa elemen wawancara itu sangat banyak dan luas. Bila tulisan ini berisi tentang jenis-jenis wawancara maka ini hanya sekedar bayangan bahwa wawancara itu gampang tapi sulit bisa juga sulit tapi gampang ..apakah bingung baca kalimat ini . Oke mari kita bayangkan :
Wawancara Langsung/Live
1. Wawancara Berita langsung ditempat kejadian (on the spot) Adalah wawancara untuk mendapatkan jawaban langsung apa adanya . Wawancara ini akan memberikan suasana “segera”. Inilah kelebihan radio Berita yang menerapkan ketersegeraan yang begitu sempurna. Wawancara ini untuk mencari materi factual dan materi audio.
2. Wawancara langsung di studio : Wawancara ini atas dasar undangan dari Radio kepada narasumber dan berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi bisa juga karena inisiatif narasumber untuk meminta diwawancarai.
3. Wawancara Langsung via telpon Telpon : wawancara ini lebih dikarenakan masalah narasumber yang tidak mungkin datang kestudio dan juga karena mengejar ketersegeraan ,actual
Wawancara Tidak Langsung
1. Memperdengarkan rekaman wawancara berita actual yang sudah di edit. Biasanya ini dilakukan untuk tujuan agar isi lebih efektif waktu dan mencari poin-poin jawaban sehingga diperlukan proses editing.
2. Wawancara untuk tujuan promosi wawancara ini tentu tujuannya agar menarik materi didalamnya tentu disiarkan tunda untuk kepentingan sponsor/pengiklan
Dari dua Jenis itu tentu tujuannya sama mengejar hal-hal yang actual.
Dan mengenai tips wawancara seiring dengan waktu berjalan selalu mengalami perkembangan dan standard masing-masing radio tentu beda-beda dalam strategi wawancara .Namun demikian saya coba inventarisir kesalahan yang sering dilakukan oleh seorang pewawancara dalam hal ini saya sebut saja penyiar ketika wawancara :
2. Penyiar bertanya dengan kalimat bertele-tele dan mutar-mutar,akhirnya inti pertanyaan jadi kabur.
3. Penyiar terlalu kaku dengan dengan daftar pertanyaan yang ia pegang . Seharusnya daftar pertanyaan diipakai untuk umpamanya bila kita tidak puny ide pertanyaan lagi baru melihat daftar. Jadi sebaiknya hinder membaca daftar pertanyaan.
4. Penyiar tidak memperhatikan dan jeli pada point ucapan yang terlontar padahal itu bisa dikejar untuk diperdalam dan dipertajam.
5. Penyiar minder dengan sang naraumber yang mungkin orang terkenal dan memiliki kedudukan terhormat
6. Penyiar tidak memposisiskan diri pada kesamaan derajat sehingga dia menggunakan kalimat yang menunjukan rasa hormat contoh : Penyiar kikuk kalau kalau menggunakan kalimat “anda” ..
7. Penyiar tidak paham posisi dirinya adalah pewawancara tapi malah dia sering beropini.dan berkomentar .Ketahuilah pendengar itu yang ditunggu adalah jawaban narasumber bukan opini sang penyiar . yang ditunggu pendengar adalah pertanyaan yang mewakili perasaan pendengar . inilah hal yang cukup sulit yang harus ditempuh . (diblog ini kami pernah menulis PRESENTER HARUS BELAJAR JADI PEMIRSA silahkan dibaca kembali)
8. Penyiar terlalu pasrah dengan jawaban narasumber dan membiarkan narasumber bicara sampai habis padahal jaswaban yang panjang tidak mengandung unsur pengungkapan fakta . Solusinya sela dengan pertanyaan yang lain.
9. Penyiar entah disengaja atau tidak menatap wajah narasumber dengan wajar
10. Penyiar j memperlihatkan posisi seolah hakim atau polisi yang punya prinsip menginterogasi banyak narasumber tidak suka dengan cara seperti ini .Bukankah seseorangyang mau diwawancarai sudah memberikan pengorbanan waktu dll?
11. Penyiar sering mengeluarkan kalimat penegas yang mubazir
.contoh
Narasumber : saya merasa ini sebuah ketidak adilan yang saya rasakan
Penyiar : Ohh jadi ketidak adilan yang anda rasakan
12. Penyiar tidak netral dalam wawancara seharusnya penyiar itu independent.
13. Penyiar terlalu gampang diatur narasumber untuk mengeluarkan daftar pertanyaan yang disediakan narasumber sebaiknya penyiar jangan mau diatur.Kecuali kalau itu wawancara promosi ,itupun penyiar tetap tidak kaku .
14. Penyiar mengelurakn pertanyaan kalimat awal mubazir “pertanyaan berikutnya adalah”, “kalau boleh kami tahu”,
15. Penyiar mengeluarkan bunyi yang mengganggu seperti Oh ya ya..Oh ya ya, he eh, he eh .
16. Penyiar terjebak debat berkepanjangan
17. Penyiar tidak peka jawaban narasumber itu tajam atau tidak
18. Penyiar tidak mampu mengeluarkan improvisasi yang disengaja dan improvisasi reflek.
Wawancara adalah urat nadi bagi sebuah radio berita dan juga sebagai patokan profesional atau tidak sang penyiar . Jadi apakah kita mau jadi penyiar yang biasa-biasa saja atau luar biasa tinggal pilih…….
Setiap ada peringatan HUT kemerdekaan RI saya selalu ingat ucapan teman dia bilang lho Indonesia berpuluh-puluh tahun merdeka masa bram belum bisa email ?. Saya balik nanya lho masak urusan hari merdeka diukur dari rakyatnya bisa email atau tidak , seharusnya kalau penyiar ukurannya bisa siaran atau tidak itu baru pas
Lama kelamaan pertanyaan teman itu juga faktor pemicu saya bisa email-an . Dan memang tehnologi itu bukan miliknya ilmuwan saja. Dan sekarang saya juga membuat ucapan yang sama bila ketemu teman yang tidak bisa email-an…sudah 64 tahun merdeka belum bisa email.... Yah intinya sindiran ,kritik itu nikmat ,kritik itu informasi yang baik.
Tulisan lalu saya menulis judul sudah saatnya penyiar meng-ONLINE-kan dirinya itu dengan maksud agar awak radio tidak gaptek. Agar awak radio jangan jadi “penonton” ketika tehnologi itu melenggang. Padahal itu bisa dijadikan peluang bagi awak radio secara pribadi dan Radio sebagai institusi. Sekarang cara awak radio meng-online-kan dirinya macam-macam ,ada yang nge-Blog dan Face book ,radio online dan lain-lain. Bisa jadi wawasan berpikir awak Radio berubah kearah yang positip.
Minggu pagi 9 Agustus lalu saya baca salah satu koran lokal di Bali dimana inti beritanya Bupati Jembrana memergoki oknum PNS di lingkungan Pemkab sedang Facebook-an saat jam kerja .
Bupati menganggap ini akan merusak kinerja. Selanjutnya Bupati memerintah ahli IT nya untuk memblokir situs facebook . Langkah ini tepat karena bisa jadi dilakukan saat jam kerja dan kontra produktif dengan tugas sebagai abdi masyarakat.
Disisi lain Bupati seharusnya bangga juga melihat PNS bisa facebook-an itu artinya PNS sudah melek tehnologi dan sebenarnya para PNS yang demam facebook ini bisa disalurkan ke hal hal yang produktif dengan tetap bisa gunakan fasilitas Book .
Masalahnya facebook-an saat jam kerja bisa saja indikasi oknum PNS tersebut yang tidak punya job description yang jelas sehingga ada yang kerja sibuk ada yang kekurangan pekerjaan.
Namun karena tidak ada yang mengarahkan mereka pada facebook maka facebook menjadi kambing hitam lalu diblokir. Sebaiknya para PNS meski di giring untuk menggunakan facebook yang lebih mendukung kinerja instansi. Contoh tiap kantor di lingkungan pemkab bisa gunakan facebook untuk komunikasi dengan masyarakat dalam urusan yang produktif misalnya Tanya jawab masalah perijinan usaha,pengaduan masalah layanan umum, untuk komunikasi pimpinan dan rakyat setempat dengan permasalahan aktualnya, bukankah ini sesuatu mengasyikan dan produktif?.
Masalah face book yang dialami pemkab Jembrana sebenarnya dulu dialami dilingkungan radio. Awak Radio facebook-an saat siaran sehingga siarannya jadi kurang konsentrasi. Masalahnya facebook-annya tidak ada hubungannya dengan siaran . Jadi memang benar Apapun tehnologinya tergantung orang yang menggunakannya.
Kita memang harus kenalkan tehnologi sedini mungkin pada awak radio agar tidak gaptek. Kita harus sadar bahwa buta hurup dimasa mendatang adalah mereka yang tidak bisa internet.
Jadi sebelum memblokir kita kaji dulu apa yang perlu diatur agar produktif. Di Tim kami Radio Facebook bisa dipakai untuk komunikasi antara Radio dengan penggemarnya . Bahkan di Radio Global seluruh penyiar wajib mampu menggunakan Facebook. Karena di global FM email, face book dan nomor SMS selalu diumumkan ke pendengar sebagai jalur komunikasi timbale balik. Contoh sebagai ajang berkirim salam ,permintaan lagu ,bisa juga digunakan tempat untuk bertanya, beropini ketika ada satu thema yang diangkat di radio. Bahkan facebook bisa mempromosikan radio pada calon pengiklan .
Ada kecenderungan pendengar pelan tapi pasti hijrah dari main SMS-an menuju ke Facebook sebab kecenderungan era sekarang dan masa mendatang orang banyak beli smartphone yang sudah dibenamkan internet .Hp semahal apapaun kecenderungannya harga bekasnya turunya drastis ini yang bikin orag gampang punya smarth phone. Biaya internetan di HP juga semakin murah pulsanya sehingga facebook jadi sasaran untuk sebuah komunikasi. Kondisi inilah yang harus ” dibaca” orang radio yaitu apa yang bisa radio lakukan ketika fenomena ini terjadi. Dan hal yang paling penting adalah komunikasi antara radio dengan pengiklan bukankah ini hal yang paling pokok dari radio .
Secara institusi Radio meski meng-ONLINE-kan siarannya agar sinergis ,pendengar dari seluruh Indonesia bisa manfaatkan radio online untuk mendengarkan secara live siarannya dan menulis opininya lewat face book kemudian oleh penyiar opini yang dikirim lewat face book diudarakan. Fasilitas untuk meng-ONLINE-kan radio saat ini sudah ada yang instant murah dan tidak ribet Kita tentu berdecak kagum ternyata Facebook dan radio online itu mengasyikan dan produktif bila kita serius mengarahkannya . Pemasang iklan pasti lebih tertarik pada radio yang tampil beda dan akrab dengan tehnologi. Dan akhirnya semua tergantung SDMnya .
Radio yang tidak akrab tehnologi dan tidak mau membuat perubahan akan digilas ! dan terbengong-bengong. Benar kata orang tehnologi memang tidak semua harus dituruti tapi kita patut untuk menganalisa tehnologi yang mana yang pantas dan jadi kebutuhan mutlak untuk radio .
Penyiar secara pribadipun tidak mesti semua tehnologi dipelajari tapi analisa kebutuhan yang mana yang pantas kita geluti itulah yang harus ditekuni atau anda punya pendapat lain? (bramw)
Inilah photo pusat kendali suara saya untuk disebarkan penjualannya lewat internet . Boleh dibilang home industri suara kecil-kecilan . Studio ini masih jauh dari kelayakan studio yang sebenarnya ,dibilang studio tidak ada ciri-ciri studio dibilang tidak ada ciri-ciri hasilnya sudah ada yang masuk ke rekening he he . Kecil-kecilan dan sederhana namun Alhamdulillah mampu beri arti tersendiri . Untuk photonya saja pakai HP butut,jadi agak bureng. Yang penting niat dan ACTION NYATA
Bermula dari status Gaptek stadium 3 saya coba mengenal sedikit demi sedikit dunia maya . lalu saya coba mengonlinekan suara saya atau bahas kerennya ber Bisnis ONLINE ,Arsip hasil pekerjaan di ONLINE kan , jualan produk pelangsing di online khan ,jualan pulsa di online khan ,entah apalagi yang di Onlinekan lagi pokoknya tetap siaga terus . Ide dan ilmu ini sedikit demi sedikit saya dapatkan dengan cara belajar sendiri ,gurunya teman-teman yang wajahnya tidak diketahui.
Inilah bentuk perjuangan demi sesuap nasi dan seember berlian he he . Ruangan studio tidak kedap suara jadi kalau si blacky tetangga menggong- gong saya harus berhenti take voice sebab diskenarionya tidak ada efek suara anjing maka blackynya tetangga benar-benar jadi gangguan utama . Tapi bila skenarionya ada si blacky sangat berjasa hitung-hitung saya tidak lagi- masukan suara efek lagi .kalau ada hujan lebat ada suara hujan masuk .
Dengan prinsip belajar dan tidak malu tanya kanan kiri saya mampu"mencuri ilmu". Prinsip meniru dan meniru secara positip jadi acuan untuk maju. Ternyata benar hobi bisa bikin “hidup semakin hidup”.
Saya selalu tekankan pada teman penyiar bahwa kita selaku penyiar pasti punya potensi dan kesempatan untuk maju bila kita mau menggali dan sadar akan potensi diri . Soal itu berhasil atau tidak itu urusan nomor kesekian. Menggalipotensi penyiar tidak harus di internet tapi jaman sekarang ini sebaiknya kita semua harus “mencicipi” dua dunia yaitu dunia online dan offline..Sudah saatnya penyiar mengonlinekan dirinya. Sekarang ini apa sih yang tidak bisa di Online-kan .
.Dari cerita ini ini saya bisa mengambil kesimpulan sendiri ternyata kalau kita menikmati sebuah kesulitan tehnologi dimasa lalu kita akan mampu keluar dari kesulitan tehnologi rekaman dimasa sekarang .
Hikmah yang bisa diambil secara umum adalah kesulitan dimasa lalu yang sudah dijalani dengan tekun dan sabar ikhlas Insya Allah akan beri manfaat dimasa mendatang . Akhirnya pusat kendali ada di Niat dan Action .
Narasumber Perlukan Belajar Jadi Narasumber
Diposkan oleh BRAM WIJAYA | 22:06 | narasumber, Radio, TIPS, tv, Wawancara | 0 komentar »
kalau biasanya kita sering mengeluarkan tulisan tentang tips jadi pewawancara yang baik sekarang kita bicarakan Jadi orang yang diwawancarai atau narasumber yang baik . Tapi apakah selama ini ada narasumber yang baik ?. Jadi adakah selama ini yang membahas tips menjadi narasumber ?. Ini menarik sekali sebab kalau narasumber yang sudah terbiasa diwawancarai media TV,Radio ,Koran dll tentu beda dengan yang sudah terbiasa diwawancarai dengan yang belum pernah diwawancarai.
Sebelum dibahas masalah ini menurut saya yang namanya narasumber ituada dikalangan atas ,tengah dan bawah. jadi Cara penyampaian merekapun beda. Terkadang inipun tidak mutlak kalangan ataspun kalau memang dia tidak bisa apa yang diucapkan sama output yang dikeluarkan tidak ada apa-apanya. Lalu apakah untuk menjadinarasumber harus ada pelatihan ?.. Tidak yang ada adalah urusan pengalaman saja . Terkadang mereka yang sudah pengalamanpun akan kelimpungan juga tergantung siapa yang mewawancarai.
Terkadang saya suka dengan jawaban-jawaban polos narasumber ,contoh saya pernah lihat seorang ibu-ibu dikampung diajak wawancara satu meja dengan presenternya berhadap-hadapan yang terjadi jawaban polos dan jujur .
Banyak anggapan yang jadi narasumber pasti orang ahli dan pintar padahal orang yang bodo pun bisa jadi narasumber . Bukankah narasumber itu apa saja oke yang penting untuk menguak tujuan tertentu yang dicari .
Terlepas dari urusan narsumber pintar atau bodo terlepas dari kalangan atas atau bawah. Saya hanya pernah diceritakan oleh seorang pejabat atau tokoh yang terbiasa diwawancara dia memberikan tips memnjadi narasumber yaitu :
Jawabalah apa yang menjadi urusan atau keahlian kita, diluar itu jangan coba-coba
Jawablah dengan singkat dan tidak bertele-tele
Bila menghadapi penyiar atau pewawancara yang suka mengeluarkan pertanyaan
nakal dan menjebak jangan emosi karena emosi akan mengeluarkan kata dan kalimat
tak terduga.
Bila kita ditanyai komentar yang kita tidak tahu persis katakan no coment
Dan yang penting punya ilmu ngecap harus dimiliki
Jangan menggunakan kata atau kalimat yang muter-muter karena akan cenderung membuat hang pikiran kita
Bila ingin menuduh kelompok atau orang maka gunakan kata tertentu misalnya :" saya
yakin ini ulah kelompok tertentu".Karena sudah sering seorang narasumber langsung berperkara dengan orang setelah bicara di media
Tips ini akan tidak ada artinya bila pewawancara/penyiar yang lebih pintar jadi kesimpulannya tips ini bisa dipakai boleh tidak . Tips ini juga tidak berguna bila yang diwawancarai rakyat jelata . Kita tahu juga selama ini tidak ada lembaga pendidikan narasumber (Bramw)



































